Rabu, 06 Januari 2010

Wajah Jogja Rada Beda dengan Biennale Jogja X


Sejak pertengahan Desember 2009 silam hingga minggu kedua Januari 2010 ada pemandangan yang berbeda di berbagai penjuru Yogyakarta. Di seputar titik nol saja, yaitu antara Benteng Vredeburg, Istana Gedung Agung, hingga perempatan Kantor Pos Besar dan BNI, ada sejumlah karya yang tersaji. Ada patung-patung yang aneh atau poster lukisan berukuran raksasa. Lalu masih banyak pula yang terlihat, seperti di Malioboro, perempatan Jalan Senopati, pojok beteng wetan, bunderan UGM, dan lain-lain.

Keberadaan karya-karya seni rupa itu adalah dalam rangka Biennale Jogja X - 2009, pameran seni rupa besar-besaran setiap dua tahun. Biennale tahun 2009 diikuti lebih dari 300 seniman Jogja yang terdiri dari 126 perupa dan 6 kelompok seni yang hasil karyanya dipamerkan di empat pusat di Jogja yaitu TBY, Jogja National Museum (JNM), Sangkring Art Space dan Bank Indonesia. 197 seniman yang menyuguhkan hasil karyanya di ruang publik. Karya-karya di ruang-ruang publik ini berupa instalasi, mural kampung, street art, melukisi tanki air, karya master senirupa tradisional berusia sepuh, performance art, art project, respon kios PKL, melukisi toilet mobil, patung publik, banner, billboard dan videotronik.

Ketika Biennale Jogja X dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada Jumat malam, 11 Desember 2009 lalu, halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) terasa sesak karena begitu banyak seniman dan masyarakat umum yang menghadirinya.

Menyikapi tagline Biennale Jogja X - 2009 "Seni Agawe Santosa", Jero Wacik mengharapkan agar seni benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan bagi seniman. "Jangan sampai ada seniman besar dan dikagumi, tetapi hidupnya susah," ujarnya.

Jika masih ingin melihat ruang publik Jogja yang menjadi ajang pameran seni rupa, datang saja hingga 10 Januari 2010, saat Biennale X Jogja berakhir.

Sumber data : www.gudeg.net

Foto oleh Langkah Bangkit S. dan dapat lebih banyak dilihat di www.luhursatya.multiply.com


Selasa, 05 Januari 2010

Risalah Apresiasi Tahun 2009


Tak banyak catatan yang kutulis di tahun 2009. Untuk memenuhi ruang kosong blog ini dan sekaligus wujud apresiasiku terhadap karya para seniman/budayawan yang telah lama berkiprah dalam dunia kesenian, maka sekadar kukutip kata-kata mutiara yang senantiasa mengandung hikmah, misalnya kutipan dari puisi WS Rendra dan novel Iwan Simatupang.

Pada bulan Desember kuhadiri tiga acara pembukaan, yakni : pameran foto di toko buku Togamas (1/12), pameran desain grafis Diskomplet di Bentara Budaya (4/12), dan pameran seni rupa Biennale X Jogja - 2009 (11/12). Acara pembukaan pertama tidak mengesankan, bahkan melihat foto yang dipamerkan saja tidak bisa leluasa. Yang kedua meriah, pengunjungnya banyak, yang dipamerkan menarik sekali, dan hiburan oleh dua penyanyi dangdut cukup menyegarkan. Sementara pembukaan Biennale Jogja X sangat meriah dan riuh rendah.


Sepanjang tahun 2009 sempat kuhadiri sejumlah acara seni : malam sastra 50 tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta Gamelan Festival, sebuah pertunjukan teater, Pentas Budaya Rusia, dan Padz Jazz di TBY; pertunjukan puisi di Teater Garasi, bedah buku sastra di YUK, pemanggungan sastra di LIP, juga mengenang WS Rendra di pendapa Tamansiswa. Dalam acara terakhir kudengarkan kisah seniman-seniman sepuh Jogja yang pernah menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Rendra. Salut bagi mereka yang mencintai seni dengan sejati dan total dalam berproses kreatif, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas tinggi.

Aktivitasku bersama AFC TBY tidak sekencang tahun sebelumnya. Hanya dua kali kuiringi anak-anak nyanyi di Saphir Square dan panggung Sekaten. Pentas besar AFC di awal November, aku hanya terlibat dalam persiapannya, jadi tidak ikut tampil. Tapi yang penting tetap ada aktivitas dan rezeki pun mengalir saja. Mesti kusyukuri jua hal itu.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2009 ketika cerpenku yang dimuat di media cetak jumlahnya ada lima buah. Dua cerpen dimuat di majalah Hai, sementara tiga cerpen lainnya dimuat di koran Batam Pos. Semoga tahun depan nasib karyaku bisa lebih baik lagi dan honornya juga lancar. Sampai awal Desember silam, honor dari Batam Pos belum kuterima.

Selama setahun kutambah koleksi buku yang kumiliki, yaitu : Bon Suwung (Gunawan Maryanto), Kacapiring (Danarto), Tangan Untuk Utik (Bamby Cahyadi) yang merupakan kumpulan cerpen. Lalu ada lagi On/Off Proses Kreatif (I Saraswati dkk), Psikologi Kematian (Komarrudin Hidayat), Living In Harmony (Fariz RM), dan Kiat Sukses Mengarang Novel (Saut Poltak Tambunan). Buku dengan judul terakhir kubeli karena aku penasaran, bagaimana sih sebenarnya mengarang novel itu? Semoga bisa kucoba mewujudkannya di tahun yang baru.

Tahun 2009 menjadi saat kepergian selamanya dua tokoh besar Indonesia : WS Rendra (6 Agustus) dan KH.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (30 Desember). Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan mengampuni dosa kesalahan beliau berdua. Semoga kita yang masih ada di dunia dapat belajar banyak dari beragam karya besar, ide-ide cemerlang, maupun catatan perjalanan hidup Rendra dan Gus Dur sepanjang hayat mereka. Amin.

Selasa, 01 Desember 2009

Padz Jazz : Meriahnya Pentas Musik Jazz di Jogja


Untuk pertama kalinya pelajar SMA di Yogyakarta, yaitu SMA Negeri 3 mengadakan pertunjukan musik jazz dalam rangka ulang tahun sekolahnya. Acara bertajuk 'Padz Jazz - Ethnic Season' yang berlangsung pada hari Senin, 30 November 2009 di concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mendapatkan sambutan yang sangat baik dari para penikmat musik di kota pelajar, terbukti dari antusiasme penikmat musik yang memadati gedung pertunjukan terbesar di Jogja itu.

Yang tampil juga cukup banyak, total ada 9 artis/grup band, terdiri dari 3 band finalis festival jazz, 3 band jazz anak-anak SMA 3, kemudian 3 artis tingkat nasional : Aji Idol, Soulvibe, dan Rieka Roslan & Troubadours. Mungkin memang sengaja dibuat ada 3 sesi dengan masing-masing 3 penampil, sesuai dengan sang empunya acara. Okelah kalau begitu. Dimulai pada pukul 19.15, pentas jazz yang dihadiri ribuan penonton itu baru usai menjelang jam 12 malam.

Band pertama tampil dengan lagu jazz standar ‘Love’ dan medley lagu daerah, lumayan bagus sebagai pembuka acara. Band kedua menampilkan seorang gadis kecil yang suaranya sudah so jazzy. Rasanya lebih ada geregetnya menonton aksi band yang membawakan ‘Blue Moon’ dan sebuah lagu daerah, yang diawali dengan tembang pendek yang dikumandangkan dengan apik oleh si gadis kecil. Band ketiga membawakan ‘Spain’ yang rumit itu dengan aransemen yang ada nuansa Jawanya, apik juga! Sehabis itu mereka juga membawakan medley lagu daerah yang sudah di-jazz-kan.

Tiga band yang terdiri dari anak-anak SMA 3 tampil apik pula, yaitu : Rekoneko, Djhavoe, dan Koala. Salah satu band itu menampilkan seorang perempuan sebagai pemain bassnya. Rasanya di Indonesia masih sangat jarang ada bassis cewek, khususnya di band non-rock. Kalau di band rock sih sudah ada Chua ‘Kotak’, Ices ‘The Rock Indonesia’, dan Nisa ‘Omlette’.

Bagiku pribadi ‘Koala’ sangat istimewa karena gitarisnya, Nihan Anindyaputra Lanisy (alias Uta atau Jono) adalah keponakanku. Sebagai pamannya bisa banggalah aku menyaksikan aksi band sarat prestasi itu di concert hall. Setahun silam hanya suara kiborku yang berkumandang saat pentas operet ‘Pangeran yang Selalu Bahagia’, sementara tiga pekan lalu sosokku sekadar berdiri berterima kasih pada penonton -bersama teman-temanku- sehabis langen gita ’Cindelaras’. Malam itu giliran keponakanku yang secara utuh mengumandangkan suara gitarnya dan performanya dilihat ribuan pasang mata di tempat itu. Dua lagu ciptaan sendiri dibawakan oleh ’Koala’ ditambah sebuah hits Chrisye ’Juwita’ yang diaransemen ulang.

Menyimak penampilan 6 band tersebut membuatku terkenang pada masa kejayaan band-band fusion Indonesia era 80-an hingga awal 90-an, seperti : Karimata, Krakatau, Modulus, dan Emerald. Apalagi dalam sebulan terakhir aku baru saja mendengarkan dan menyukai kembali lagu-lagu Emerald yang kuunggah dari internet. (Trims buat Yudi Agung Nugroho yang membagi infonya yang sangat berharga).

Aji Idol yang merupakan mantan finalis Indonesian Idol sekian tahun silam menjadi artis nasional pertama yang tampil. Sebuah lagu dari Michael Jackson (sepertinya ketika masih kribo dan tergabung dalam ’The Jackson Five’) membuka penampilannya dengan impresif. Aji yang berambut super kribo tampil di lagu pertama bersama seorang temannya yang tak kalah kribo, lucu jadinya! Sehabis itu diselingi curhat Aji yang kocak, dia bersama band pengiringnya membawakan sebuah lagu Vierra dan dua lagu lagi, yang terakhir adalah ’Can’t Buy Me Love’ dari The Beatles yang dibawakan dengan sangat dinamis. Sayang, sebelum Aji berniat menyanyikan lagu pamungkasnya, waktu untuknya sudah habis.

Band ’Soulvibe’ mungkin kurang populer jika dibandingkan dengan ’Maliq n D’Essentials’ dan ’RAN’. Tapi ternyata penampilan mereka mampu memukau para pandemen jazz Jogja juga. Band beraliran RnB itu membawakan sejumlah lagu ciptaan sendiri, termasuk ’Biarlah (Hapuslah Cinta)’ dan ’Arti Hadirmu’ yang rupanya cukup ngetop buat penonton. Sejumlah penonton maju di depan panggung dan bebas bergoyang saat aksi terakhir Soulvibe. Yang jelas suasananya jadi makin meriah. Sayangnya, karena mungkin sudah lebih dari jam 11 malam, cukup banyak penonton yang meninggalkan gedung pertunjukan ketika performa Soulvibe belum tuntas.

Rieka Roslan dengan keempat sahabatnya dalam ’Troubadours’ menjadi artis pamungkas disaksikan sekitar 50% penonton yang masih setia menanti. Mbak Rieka bilang bahwa mereka akan menampilkan ragam jazz yang berbeda dengan artis-artis sebelumnya. Dan memang benar begitu adanya. Ada nuansa lain ketika perempuan asal Bandung itu menyanyikan ’Sepasang Mata Bola’ dengan gayanya sendiri yang khas, dilanjutkan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Juga berbeda dengan yang lain, Mbak Rieka sempat nyanyi sambil jalan-jalan di antara penonton, mengajak mereka bernyanyi dan menari pula bersamanya. Koor penonton terdengar ketika hits lama ’The Groove’ bertajuk ’Dahulu’ dibawakan oleh Rieka Roslan & Troubadours.

Padz Jazz akhirnya berakhir ketika tengah malam hampir tiba. Penonton pulang dengan puas rasa. Semoga pentas serupa dapat kembali terlaksana di saat mendatang. Tak lupa, salut dan selamat buat anak-anak Padmanaba!

Jumat, 27 November 2009

Puisi (Dodong Djiwapradja)

Kun fayakun


Saat penciptaan kedua adalah puisi

Tertimba dari kehidupan yang kautangisi


Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari

adalah puisi


Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki

adalah puisi


Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli

adalah puisi


Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali

adalah puisi


Dan dari setiap tanah yang kaupijak

sawah-sawah yang kaubajak

katakanlah : sajak


Puisi adalah manisan

yang terbuat dari butir-butir kepahitan


Puisi adalah gedung yang megah

yang terbuat dari butir hati yang gelisah.


1968


Sajak (Hartojo Andangdjaja)

Sajak ialah kenangan yang bercinta

mencari jejakmu, di dunia


Ia mengelana di tanah-tanah indah

lewat bukit dan lembah

dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca

jejak kakimu di sana


Sementara di mukanya masih menunggu

yojana biru

kaki langit yang jauh

jarak-jarak yang harus ditempuh –


ia makin merindu

dalam doa, dan bersimpuh :

Tuhanku ......


Sajak ialah kenangan yang bercinta

mencari jejakmu, di dunia


1966


Sabtu, 14 November 2009

Semangat Silmi Saat Senin

Telah belasan kali Silmi tekun berlatih di TBY. Gadis cilik itu bersama kawan-kawannya yang suka bernyanyi akan menjadi bagian sebuah pertunjukan kolaborasi antara seni peran, seni tari, seni vokal, seni musik, dan seni rupa. Oleh pengajarnya, Silmi telah ditunjuk menjadi salah satu solis untuk sebuah lagu. Ia menjadi yang termuda dan satu-satunya anak SD yang menjadi solis, sementara yang lain sudah SMP atau SMA. Kian mendekati hari pentas, latihan dilakukan tiga hari berturut-turut serta lebih lama ketimbang sebelumnya. Pasti melelahkan sekali rasanya.

Ketika sampai harinya, Silmi malah jatuh sakit. Suhu tubuhnya tinggi, kepalanya pening, semangatnya pun luruh, tapi ia masih ingin tampil saat malam tiba. Pagi itu Silmi tidak masuk sekolah dan beristirahat di rumah. Siangnya sudah terasa lebih segar, tapi malah muncul bintik-bintik merah di wajahnya, alerginya kumat gara-gara telur yang dimakannya di hari sebelumnya. Silmi sedih dan merasa tak berdaya. Tapi ayah bunda Silmi mampu membangkitkan semangat putrinya. Terlecutlah hati gadis berambut kriwil itu. Ia tak mau merasa sakit dan yakin tetap sanggup berada di antara teman-temannya. Bersama mereka Silmi ingin dapat bernyanyi dengan gembira. Dengan percaya diri ia kembali bersuara dan menggerakkan tubuhnya –seperti saat latihan- ketika pertunjukan jadi berlangsung di malam hari. Tak sedetik jua bocah itu mundur, hingga tiba gilirannya bernyanyi sendiri. Tepuk tangan riuh mengiringi akhir pergelaran. Bahagia dan lega hati Silmi, begitu bangga pula niscaya kedua orang tuanya. Syukurlah...


14 November 2009

#

Sebuah catatan kecil dari pentas ’Cindelaras’ AFC TBY pada Senin malam, 9 November 2009 di concert hall.

Selamat buat Mas Broto, Pak Sigit, Pak Hugo, Mbak Yayuk, Mbak There, Mbak Utik, Mas Ibed, Mas Pardiman, dan semua anak-anak AFC (juga orang tuanya). Terima kasih untuk Bu Dian, Bu Eka, dan semuanya saja di TBY.


Senin, 26 Oktober 2009

Makin Kukenal (Ayatrohaedi)

Makin kukenal diriku makin tak kukenal diriku :

Apakah ia yang selalu ragu untuk berkata ”tidak”,

ataukah yang selalu tak bisa mengatakan ”ya”

pada saatnya yang tepat atau sangat mendesak?


Kukira telah kukenal diriku yang duduk demikian rapat di sampingku

tetapi siapa pulakah itu yang berdiri di depan pintu

dengan senyumnya mencemooh dan menudingkan telunjuk

sambil berkata pasti : “Kau tak mengenal dirimu!”


Makin kukenal diriku makin tak kukenal diriku :

Apakah ia yang bimbang dan terlalu banyak menimbang,

ataukah yang selalu terburu-buru memanggil ragu

karena ia selalu diburu ragu?


1974