Selasa, 2009 Juni 09
Bedah Buku, Pemanggungan Sastra, dan Pembukaan Pasar Kangen Jogja
Acara berikutnya adalah pemanggungan sastra ’Baca Kolom Umar Kayam’ garapan Komunitas Sarkem (Sanggar Kreativitas Mahasiswa) Yogyakarta di LIP pada Kamis (4/6). ’Kolom Umar Kayam’ yang dahulu rutin dimuat di koran Kedaulatan Rakyat setiap Selasa menjadi kenangan tersendiri bagiku. Selain aku, almarhumah ibuku dan dua orang kakakku juga menjadi pembaca setianya dahulu. Banyak yang bisa direnungkan dari apa yang disampaikan oleh Pak Ageng, Mister Rigen, Pak Joyo, dan tokoh-tokoh lainnya dalam ’Kolom Umar Kayam’. Satu hal yang kuingat, istilah ’maknyus’ ternyata dikutip pak Bondan Winarno dari hasil karya pak Kayam itu. Menjadi pengalaman yang menarik bagiku melihat karya sastra tersebut dipanggungkan dalam bentuk text reading, wayang kulit, story telling, dan pantomim. Musikalisasi puisi yang dibawakan KM AS Sarkem pun asyik disimak, apalagi satu-satunya personel perempuan yang jadi penyanyinya sungguh ayu.
Hari Sabtu petang (6/6) kuhadiri pembukaan ’Pasar Kangen Jogja 2009’ di kompleks TBY yang dilakukan oleh Didik Nini Thowok. Acara itu berlangsung pada 6-11 Juni 2009. Cukup menyenangkan. Ada sejumlah teman yang bisa kuajak bicara di sela-sela beberapa pertunjukan seni tradisi, di antara para penjual makanan dan mainan tradisional yang beraneka ragam pula. Syukurlah bahwa cuaca cerah selama acara berlangsung, padahal sebelumnya mendung sempat lama menggantung di langit Jogja.
Selasa, 2009 Mei 05
Pertunjukan Puisi di Studio Teater Garasi
Spontanitas membaca puisi yang dilakukan oleh penonton dipelopori oleh Elang yang hadir bersamaku. Dia pun dihadiahi buku kumpulan sajak Cindhil plus tanda tangan penulisnya. Kelompok tari Sahita yang terdiri dari 4 orang ibu-ibu layak menjadi puncak pertunjukan malam itu. Tak kentara yang mana yang berdasarkan naskah atau guyon maton mereka belaka, yang jelas aksi mereka asyik banget dilihat dan sangat dinikmati oleh penonton.
Selasa, 2009 April 14
Penuntas Pentas dan Malam Sastra
Bersama anak-anak AFC, kami sempat tampil sebagai selingan sebuah lomba di Saphir Square (25/1) dan pentas di panggung gembira Sekaten di alun-alun utara (6/3).
Untuk kedua kalinya sejak aku bergabung di AFC, anak-anak tari, teater, dan vokal kembali unjuk kemampuan di atas panggung gembira Sekaten pada Jumat, 6 Maret 2009 lalu. Berangkat dari TBY ditemani gerimis, mereka diperkirakan mulai tampil menjelang azan Maghrib. Karena kelompok seni lainnya melakukan perubahan rencana, jadwal tampil AFC jadi tertunda. Dan kami dari kelas vokal ternyata diberi jatah terakhir sebagai penuntas pentas dari AFC. Baru setelah azan Isya’ kami baru bisa naik panggung. Sebagai tanda mataku buat anak-anak yang tetap ceria dan bersemangat, kendati mesti lama menunggu dan pulang kehujanan, telah kutulis sebuah puisi.
Penuntas Pentas
jingga senja enyah sudah
gelap mengendap selubungi bumi
nyaris gerimis rontokkan dahan
sabar menyebar, lumpuh luruh
tiba masa penuntas pentas
berkibar kobar asa menyala
kumandang tembang dengar terhampar
rona bahagia abaikan hujan
Rabu malam, 1 April 2009, aku dan Elang sepupuku menghadiri ’Malam Sastra 50 Tahun Sanggar Bambu’ di serambi ruang pameran TBY. Elang antusias ingin datang karena kedua orang tuanya pernah aktif di komunitas itu, semasa mereka masih muda dan tinggal di Jogja. Ada pembacaan cerpen dan pembacaan/musikalisasi puisi materi acaranya. Kami datang sudah rada telat. Yang menarik adalah storytellling oleh Dinar Saja, yang sekian bulan silam pernah kulihat di Bincang-Bincang Sastra. Dia membawakan cerpen ’Tuhan Dijual Murah’ karya Danarto secara monolog tanpa teks. Salut buat bung Dinar! Yang juga apik, pembacaan cerpen ’Godlob’ karya Danarto lainnya oleh Landung Simatupang, yang diiringi musik oleh Tomi putranya dan seorang rekannya. Seusai pertunjukan, kami ngobrol sejenak dengan Tomi dan melihat pameran senirupa –dalam rangka 50 tahun Sanggar Bambu pula- di ruang pameran. Sehabis itu kami pulang, karena lampu ruangan sudah mulai dimatikan.
Selasa, 2008 Desember 30
Risalah Apresiasi Paruh Kedua 2008
Aktivitas kesenianku
Sempat kuiringi paduan suara anak-anak AFC di kompleks Kepatihan (23/7), lalu anak-anak dan remaja menyanyi solo di Pentas Seni Tradisi di TBY (15/8), dan di Malioboro Mall (29/12). Tapi hal itu relatif bukan hal baru bagiku. Yang terasa istimewa adalah ketika aku ikut terlibat dalam pentas gabungan AFC di acara Festival Seni Anak. Dalam operet ‘Pangeran yang Selalu Bahagia’ yang berlangsung di concert hall TBY awal November itu, tugas utamaku memang sebagaimana layaknya mengiringi anak-anak menyanyi. Namun ada tugas tambahan untukku mengiringi anak-anak menari. Lagu instrumental pengiring tarian keempat merupakan ciptaanku sendiri, sementara selebihnya merupakan lagu-lagu yang sudah lebih dahulu eksis.
Anak-anak vokal menyanyikan empat lagu karya Pak Sigit di antara sejumlah adegan yang dimainkan anak-anak teater, jadi aku mainnya juga manut Mas Broto selaku sutradara malam itu. Kusyukuri jua pentasnya berjalan mulus, penontonnya lumayan banyak, kendati aku sempat rada terbebani dengan awal yang buruk. Tapi yang penting akhirnya melegakan.
Selain itu, aku sempat main piano di sebuah acara keluarga mutinasional di awal Agustus dan mengiringi paduan suara dalam lomba internal sebuah instansi pemerintah (jadi juara ke-3) pada bulan Oktober.
Pertunjukan seni yang kuhadiri
Menjadi sebuah impresi tersendiri bagiku ketika sempat kusapa Andrea Hirata dan Riri Riza, lalu kuikuti diskusi bersama Djenar dan Ayu Utami di bulan Agustus.
Buku yang kubaca
Yang kubaca hasil pinjaman : The Da Vinci Code (Dan Brown), Maryamah Karpov/Mimpi-mimpi Lintang (Andrea Hirata), dan Rahasia Meede (E.S.Ito). Yang kubeli : Seribu Kunang-kunang di
Rabu, 2008 Oktober 29
FESTIVAL SENI ANAK 2008 DI TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
Akan berlangsung kegiatan Festival Seni Anak 2008 di Taman Budaya Yogyakarta mulai 2 November 2008 sampai dengan 10 November 2008. Kegiatan berupa pergelaran beragam seni (tari, operet, teater, musik, tradisi), pemutaran film anak, pameran seni rupa dan foto anak internasional, maupun seminar nasional dan workshop kesenian. Seluruh kegiatan yang berlangsung setiap hari pukul 9.00 hingga 21.00 di TBY tidak dipungut biaya. Untuk seminar nasional, pendaftaran sudah ditutup karena sudah memenuhi kuota yang tersedia.
Kamis, 2008 Oktober 09
Memetik Hikmah dari Ki Slamet Gundono
Ada sejumlah hikmah yang dapat kupetik dan sedikit yang kucatat di sini : Keindahan di dunia tidak terletak pada harta, benda, dan rupa. Keindahan dapat dirasakan pada kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya, juga dapat dilihat pada kasih sayang serta keikhlasan ibu pada anaknya. Hanya orang yang tak pernah menyakiti orang lain yang boleh mengharapkan lailatul qadar. Memang tidak mudah untuk tidak pernah menyakiti, karena diam saja pun kadang bisa menyakiti orang lain. Idul Fitri adalah momentum luar biasa untuk dapat saling memaafkan. Entah siapa dulu yang menciptakan tradisi yang hebat tersebut, salut dan terima kasih untuknya.
Ada salah satu cerita lucu dari pesantren yang disampaikan ki dalang, yang ternyata ada hikmahnya pula. Saat itu Slamet Gundono dan teman-temannya di pesantren akan melakukan pertandingan sepakbola. Terinspirasi oleh pemain luar negeri yang merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhannya, Slamet pun meminta usul dari teman-teman setimnya. Ternyata ada salah satunya yang telah memiliki ide, tapi masih dirahasiakannya. Maka ketika gol tercipta, teman Slamet itu pun berlari ke pinggir lapangan, merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhan, dengan cara menjalankan shalat dua rakaat !
Akhirnya ada satu nasihat dari pak kiai -guru Slamet di pesantren- bahwa Islam adalah sesuatu yang tak perlu dipamer-pamerkan dan agama adalah sesuatu yang tidak untuk dipaksa-paksakan. Rasanya ada pencerahan dan kubawa hikmah pulang ke rumah dari BBY malam itu. Tak jadi masalah Yoke pulang mendahuluiku, lalu sempat kusapa Gunawan Maryanto dan Tomi Simatupang belaka seusai pertunjukan.
